Minggu, 23 Agustus 2020

Pupuk Hayati Mikoriza

 

http://kalbar.litbang.pertanian.go.id/images/Images_Teknologi/Mikoriza.jpegPengertian Pupuk Hayati Mikoriza           

                Kata mikoriza berasal dari bahasa Yunani yaitu myces (cendawan) dan rhiza (akar) (Sieverding, 1991). Jadi mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualisma antara cendawan dan perakaran tumbuhan tingkat tinggi. Simbiosis ini terjadi saling menguntungkan, cendawan memperoleh karbohidrat dan unsur pertumbuhan lain dari tanaman inang, sebaliknya cendawan memberi keuntungan kepada tanaman inang, dengan cara membantu tanaman dalam menyerap unsur hara terutama unsur P. Berdasarkan struktur tumbuh dan cara infeksi maka mikoriza dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yakni Ektomikoriza dan Endomikoriza.

            Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir–akhir ini mendapat perhatian dari para ahli lingkungan dan biologis untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati /pupuk biologis. CMA merupakan sumber daya alam hayati potensial yang terdapat di alam dan dapat ditemukan hampir di berbagai eksosistem. Cendawan ini mampu membentuk simbiosis dengan sebagian besar (97%) family tanaman darat. Eksplorasi jenis-jenis CMA dapat dilakukan pada berbagai ekosistem yang masih alami maupun yang telah mengalami gangguan, dari kegiatan ini dapat diidentifikasi dan dipetakan jenis-jenis CMA dominan yang spesifik terdapat di suatu daerah. Kegiatan ini sangat penting dilakukan karena selain untuk mengetahui pola distribusi jenis-jenis CMA potensial dan telah beradaptasi dengan kondisi daerah setempat. Mikroba ini dapat diisolasi, dimurnikan dan dikembangkan sebagai agen hayati melalui serangkaian penelitian di

 

Keuntungan Pupuk Hayati Mikoriza

            Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir–akhir ini mendapat perhatian dari para ahli lingkungan dan biologis untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati/pupuk biologis. Penggunaan CMA tidak membutuhkan biaya yang besar karena :

1.      Teknologi produksinya murah,

2.      Semua bahan tersedia di dalam negeri,

3.      Dapat diproduksi dengan mudah dilapangan,

4.      Pemberian cukup sekali seumur hidup tanaman dan memiliki kemampuan memberikan manfaat pada rotasitanaman berikutnya,

5.      Tidak menimbulkan polusi dan tidak merusak struktur tanah.

            Keuntungan yang diharapkan dari pemanfaatan cendawan ini kaitannya dengan pertumbuhan, kualitas dan produktivitas tanaman jati adalah dapat membantu akar tanaman dalam penyerapan unsur hara makro dan mikro terutama fosfat (mekanismenya terjadi peningkatan permukaan absorbsi, kerja enzim fosfatase dan enzim oksalat), lebih banyak memanen air karena dapat menjangkau pori–pori mikro tanah yang tidak bisa dijangkau oleh rambut–rambut akar, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan (mekanisme ; penyerapan hifa sangat luas, laju transpirasi lebih kecil per satuan luas daun dan peningkatan tekanan osmotik), patogen akar (mekanisme ; memperbaiki nutrisi tanaman, lapisan hifa yang menutupi akar, melepaskan antibiotik), pencemaran logam berat (mekanisme kerja dari hifa cendawan) dan tingkat salinitas.

            Cendawan ini juga menghasilakan zat pengatur tumbuh (hormon) yang dapat menstimulasi pertumbuhan tanaman. Keuntungan lain yang diperoleh dari cendawan ini adalah dapat dijadikan sebagai bio indikator kualitas lingkungan, mempertahankan stabilitas ekosistem dan keanekaragaman hayati karena dapat mempercepat terjadinya suksesi secara alamiah pada habitat-habitat yang mengalami gangguan yang ekstrim, memperbaiki struktur tanah, sebagai jembatan transfer carbon dari akar tanaman ke organisme tanah lainnya. Keberadaan cendawan di dalam tanah bersinergis dengan mikroba potensial seperti bakteri penambat nitrogen (keberadaan CMA diperlukan tanaman leguminosa untuk pembentukan bintil akar dan efektifitas penambatan nitrogen oleh rhizobium/bradyrhizobium) dan bakteri pelarut fosfat, jasad-jasad renik selulotik seperti Tricoderma sp. Cendawan mempunyai peran terhadap keberlanjutan regenerasi tanaman dan memberi kontribusi positif terhadap keberadaan spesies tanaman pada suatu komunitas. Peran itu dilakukan dengan empat cara yaitu ;

1)      cendawan mikoriza berpengaruh positif terhadap reproduksi (melalui persilangan jantan dan betina) dan kemampuan adaptasi tanaman,

2)      kolonisasi cendawan mikoriza dapat meningkatkan kepadatan populasi tanaman,

3)      kolonisasi cendawan dapat meningkatkan kualitas ukuran dan produktivitas tanaman pada populasi tanaman dan

4)      sebagai sumber inokulum penting terhadap pembangunan hutan terutama pada skala persemaian(Unhalu et al.; 2007).

 

            Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman.

            Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan.

Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan.

Pemanfaatan Mikoriza

            Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman.

            Selain daripada membentuk hifa internal, mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora, yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal, akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Di dalam arbuskul. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama fosfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan, dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman.

            Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah :

1.      Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan

2.      Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar

3.      Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh

4.      Meningkatkan Serapan Hara P

5.      Perbaikan Struktur Tanah.

            Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor, 40% kebutuhan nitrogen, dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz, 1981 dalam Husin dan Marlis, 2000). Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai, tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah, maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza.

 

Teknologi Pupuk Hayati

            Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut, peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi, pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran lingkungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas lingkungan. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam, penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah, daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik, membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman, perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan

Cara Membuat Pupuk Hayati Mikoriza

            Jenis mikoriza yang akan kita pergunakan dalam proses pembuatan pupuk hayati ini adalah jamur jenis ektomikoriza. Alat serta bahan yang dibutuhkan memang agak banyak, berbeda dengan cara membuat pupuk dari vetsin dan cara membuat pupuk cair dari kotoran walet. Namun tidak perlu khawatir, karena masih mudah untuk didapatkan.

A.    Alat dan bahan yang disiapkan:

·         1 kg tepung beras

·         1 kg katul halus

·         2 bungkus bubuk agar-agar yang biasa dibuat adonan kue atau makanan

·         200 gr isolat mikoriza jenis ektomikoriza

·         100 butir vitamin B komplek

·         10 ml larutan indole acetic acid 25%, atau bisa diganti pula dengan asam asetat 25% sebanyak      10 ml juga.

·         Air masak

B.     Proses pembuatan:

1.      Langkah pertama dalam proses pembuatan pupuk hayati mikoriza ini adalah mencampurkan 1 kg tepung beras dan 1 kg katul halus. Aduk-aduk sampai kedua bahan tersebut tercampur rata.

2.      Panaskan dengan cara dikukus selama kurang lebih 30 – 60 mnt agar patogen di dalamnya mati dan bahan menjadi steril. Biarkan hingga dingin.

3.      Sambil menunggu campuran pertama tersebut dingin, kita buat campuran kedua berupa bubuk agar-agar, ektomikoriza, vitamin B komplek, dan larutan indole acetic acid 25%.

4.      Aduk hingga semua bahan tersebut tercampur rata.

5.      Berikan air masak sebanyak 250 liter pada campuran kedua, kemudian aduk hingga semua bahan terlarut.

6.      Setelah itu, Anda dapat memasukkan campuran kedua ke dalam campuran pertama yang sudah dingin tadi. Aduk-aduk kembali hingga kedua larutan tercampur rata. Usahakan kadar air yang ada pada campuran tersebut sekitar 40%, bila kurang silahkan ditambahkan hingga kadar mencukupi angka 40%.

7.      Masukkan adonan tersebut ke dalam cetakan-cetakan dengan ketebalan sekitar 5 cm, kemudian tutup dengan rapat.

8.      Inkubasikan adonan tersebut hingga mencapai 15 hari.

            Pembiakan mikoriza yang sukses ditandai dengan munculnya mantel hifa yang menyelimuti permukaan adonan. Lagi pula akan tercium aroma yang khas dari adonan tersebut. Hifa inilah yang nantinya akan menginfeksi akar tanaman dan panjangnya mampu mencapai hingga 10 meter. Dengan panjang hifa yang demikian, tentu akar mampu menjangkau air dan unsur hara pada tanaman yang sebelumnya tidak mampu dijangkau. Demikian pula akar-akar pendek dan serabut atau akar tanaman yang tidak berfungsi dengan baik akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh bahan kimia dapat tertolong oleh hifa ini. Maka tidak heran, apabila tanaman yang diberi pupuk mikoriza ini mampu bertahan terhadap lahan yang mengalami kekeringan.

Cara dan Dosis Penggunaan

            Berikan 5 kg / ha mikoriza atau tergantung dari tingkat kesuburan tanah pada lahan pertanian. Namun hindari pemberian mikoriza yang dicmpur dengan pestisida. Alih-alih menggunakan pestisida kimia yang berbahaya bagi kesehatan serta lingkungan, ada baiknya kita membuat pestisida alami. Rangkaian cara pembuatannya dapat dipelajari pada cara membuat pestisida alami untuk tanaman cabe dan alasan mengapa petani dilarang menggunakan pestisida kimia. Resep pupuk hayati mikoriza ini telah terbukti khasiatnya dan sudah teruji di lapangan dengan hasil panen yang cukup tinggi atau meningkat dibanding sebelumnya.

Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Mempercepat Bunga BuahHarga Pupuk Hayati Mikoriza

Harga pupuk hayati mikoriza dijual online dimulai dari 30 ribu-54 ribu di website bukalapak.com

 

 

Sumber :

Unhalu, F.P., Besar, B., Bioteknologi, P., dan Hutan, T. 2007. APLIKASI MIKORIZA UNTUK MEMACU PERTUMBUHAN JATI DI MUNA ( Mycorrhiza Application to support growth of teak in Muna ) 5:1, 1–4.

http://kalbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/teknologi/pangan/kedelai/budidaya-kedelai/1037-mengenal-mikoriza-sebagai-pupuk-hayati

https://ilmubudidaya.com/cara-membuat-pupuk-hayati-mikoriza

https://www.bukalapak.com/products?utf8=&search%5Bkeywords%5D=pupuk+mikoriza&search%5Bsort_by%5D=price%3Adesc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Unsur hara P (fosfor) pada tanah